Pangkal Pinang, 5 Agustus 2026 — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung merilis data terbaru yang menunjukkan bahwa perekonomian Bangka
Belitung pada Triwulan II-2026 tumbuh 4,01 persen (y-on-y).
‘Ekonomi tumbuh dan kemiskinan mengalami penurunan, ‘’ ujar Kepala BPS Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung, Sugeng Arianto dalam rilis Berita Resmi Statistik BPS
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (5/8/2026).
Ekonomi Tumbuh, Struktur Didominasi Konsumsi Rumah Tangga
Pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung pada Triwulan II-2026 tumbuh 4,01 persen secara
y-on-y. Secara q-to-q, laju pertumbuhan PDRB Triwulan II-2026 tumbuh sebesar 5,02
persen, naik dibanding triwulan sebelumnya yang terkontraksi 3,88 persen. Dari sisi
lapangan usaha, secara y-on-y lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum
mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 33,29 persen, lapangan usaha Administrasi
Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 15,99 persen, diikuti
lapangan usaha Konstruksi sebesar 14,58 persen.. Pertumbuhan lapangan usaha
didorong oleh maraknya warung makan dan kopi, masifnya Program Makan Bergizi Gratis
(MBG), serta peningkatan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Selain itu,
adanya penambahan ASN dari pegawai honorer menjadi PPPK yang mendorong belanja
pegawai meningkat dibandingkan tahun lalu karena besaran pembayaran gaji dan
tunjangan PPPK lebih besar dibanding honorer, termasuk untuk gaji ke-13 nya. Selain itu,
pembangunan fisik seperti perumahan, ruko maupun tempat usaha oleh pihak swasta
masih gencar dilakukan. Anggaran pemerintah untuk proyek fisik pada triwulan ini
mengalami kenaikan dibanding triwulan yang sama tahun lalu yang masih mengalami
defisit anggaran.
Dari sisi pengeluaran, secara y-on-y komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga tetap
menjadi motor utama dengan pertumbuhan 3,26 persen dan kontribusi terbesar terhadap
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yaitu 50,59 persen. Komponen ekspor barang
dan jasa memiliki peranan terbesar kedua sebesar 35,05 persen. Adapun kontribusi
terbesar ketiga dimiliki oleh komponen pembentukan modal tetap bruto dengan peranan
sebesar 23,10 persen. Pada Triwulan II-2026, pertumbuhan tertinggi dialami oleh komponen pengeluaran konsumsi pemerintah yang tumbuh sebesar 13,49 persen.
Pertumbuhan ini didorong oleh pencairan gaji 13 ASN dan juga kenaikan belanja barang
jasa dan modal APBD pemerintah, kemudian belanja pemerintah untuk ditransfer ke rumah
tangga (MBG) serta adanya belanja gaji PPPK yang jumlahnya meningkat.
Struktur Ekonomi Bangka Belitung didominasi oleh 3 lapangan usaha terbesar yaitu
Industri Pengolahan sebesar 21,58 persen, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dengan
kontribusi sebesar 19,85 persen, serta Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil
dan Sepeda Motor sebesar 15,25 persen. Ketiga lapangan usaha tersebut memberikan
kontribusi sebesar 56,68 persen.
Kemiskinan Turun
Tingkat kemiskinan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Maret 2026 tercatat 4,75
persen, turun 0,02 poin persentase dibandingkan September 2025. Jumlah penduduk
miskin juga berkurang 40 orang, dari 74,65 ribu menjadi 74,61 ribu orang. Di tengah
penurunan tersebut, Garis Kemiskinan Babel menjadi yang tertinggi kedua secara
nasional, mencapai Rp1.012.331 per kapita per bulan. Angka ini jauh di atas Garis
Kemiskinan nasional sebesar Rp669.235 per kapita per bulan. Komoditas makanan masih
menjadi penentu utama, dengan kontribusi 73,34 persen terhadap Garis Kemiskinan. Garis
Kemiskinan di perdesaan juga masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Secara
keseluruhan, Garis Kemiskinan Babel meningkat 2,01 persen dibandingkan September
2025. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun persentase kemiskinan menurun, biaya
minimum untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terus meningkat.
Secara nasional, tingkat kemiskinan Babel berada di peringkat kelima terendah, setelah
Bali, Kalimantan Selatan, DKI Jakarta, dan Kepulauan Riau. Dengan angka 4,75 persen,
kemiskinan Babel masih jauh di bawah tingkat kemiskinan nasional yang mencapai 8,07
persen. Namun, penurunan kemiskinan belum terjadi secara merata.
Kemiskinan di perdesaan masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Tingkat kemiskinan
di perkotaan turun 0,06 poin persentase, sementara di perdesaan justru meningkat 0,04
poin persentase. Perbedaan ini menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan di perdesaan
masih memerlukan perhatian lebih besar. Dari sisi kedalaman kemiskinan, Indeks
Kedalaman Kemiskinan menurun pada Maret 2026. Artinya, rata-rata pengeluaran
penduduk miskin semakin mendekati Garis Kemiskinan sehingga kesenjangan antara
kondisi ekonomi penduduk miskin dan garis kemiskinan semakin menyempit.
Indeks Keparahan Kemiskinan menunjukkan penurunan di wilayah perkotaan dan
perdesaan. Indeks Keparahan yang menurun ini menunjukkan bahwa distribusi
pengeluaran di antara penduduk miskin semakin merata baik untuk wilayah perkotaan
maupun perdesaan.
Ketimpangan Pengeluaran
Ketimpangan pengeluaran di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Maret 2026
tercatat 0,214, sama dengan September 2025. Angka ini sekaligus menempatkan Babel
sebagai provinsi dengan tingkat ketimpangan terendah di Indonesia. Dalam lima tahun
terakhir, ketimpangan pengeluaran Babel terus membaik. Selama lima tahun terakhir, Gini
Ratio turun sekitar 0,042 poin, menunjukkan distribusi pengeluaran masyarakat semakin
merata.
Namun, kesenjangan masih terlihat antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
Ketimpangan di perkotaan lebih tinggi dibandingkan perdesaan. Pada Maret 2026, Gini
Ratio perkotaan meningkat, sementara Gini Ratio perdesaan tidak berubah dibandingkan
September 2025. Gini Ratio berada pada rentang 0 hingga 1. Semakin mendekati 1,
semakin tinggi ketimpangan. Sebaliknya, semakin mendekati 0, semakin merata distribusi
pengeluaran.
Dari sisi distribusi pengeluaran, kondisi kelompok berpengeluaran rendah menunjukkan
perbaikan. Porsi pengeluaran kelompok 40 persen terbawah meningkat dibandingkan
September 2025. Sebaliknya, porsi pengeluaran kelompok 40 persen menengah dan 20
persen teratas menurun. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa ketimpangan
pengeluaran Babel relatif rendah dan dalam jangka panjang cenderung membaik,
meskipun kesenjangan antara perkotaan dan perdesaan masih perlu diperhatikan.
Kondisi Pengangguran
Di sisi ketenagakerjaan, situasi pasar kerja Bangka Belitung menunjukkan perbaikan.
Jumlah angkatan kerja Mei 2026 mencapai 817.743 orang, naik 1.450 orang dibandingkan
Februari 2026. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 68,21 persen pada Mei
2026, mencerminkan keikutsertaan penduduk usia produktif di pasar kerja. Selama
setahun terakhir, tren TPAK laki-laki mengalami peningkatan, sedangkan TPAK
perempuan turun.
Jumlah penduduk yang bekerja mencapai 783.005 orang, naik 893 orang selama setahun
terakhir (Februari 2026-Mei 2026). Selama Februari 2026–Mei 2026, lapangan usaha
Industri, Aktivitas Keuangan dan Asuransi, dan Transportasi dan Penyimpanan menjadi
lapangan usaha yang mengalami peningkatan tenaga kerja tertinggi, yaitu masing-masing
sekitar 4,12 ribu orang, 3,46 ribu orang dan 2,95 ribu orang.
Sebanyak 50,31 persen pekerja masih berada di sektor informal, menunjukkan perlunya
peningkatan kualitas lapangan kerja yang layak dan terlindungi. Dari sisi pendidikan, hanya
15,75 persen pekerja berpendidikan Diploma ke atas, sementara 50,68 persen masih
berpendidikan SMP ke bawah.
Pada Mei 2026, jumlah pengangguran di Bangka Belitung tercatat sebanyak 34,40 ribu
orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,21 persen, naik
dibandingkan Februari 2026. TPT Perempuan naik, sedangkan TPT Laki-laki turun. Secara
wilayah, TPT perdesaan menunjukkan peningkatan, sedangkan TPT perkotaan
menunjukkan penurunan.
Tantangan dan Agenda ke Depan
Bangka Belitung perlu memperkuat struktur ekonomi yang masih bertumpu pada konsumsi
dengan mendorong diversifikasi sektor produktif agar tahan terhadap fluktuasi musiman.
Di sisi ketenagakerjaan, agenda strategis terletak pada peningkatan kualitas tenaga kerja
melalui pendidikan dan pelatihan, serta formalisasi pekerjaan untuk mengurangi dominasi
sektor informal. Sementara itu, penurunan tingkat kemiskinan perlu diikuti dengan
penguatan daya beli masyarakat. Kebijakan pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya
berorientasi pada penurunan jumlah penduduk miskin, tetapi juga perlu meningkatkan
pendapatan dan produktivitas rumah tangga miskin, terutama di perdesaan yang tingkat
kemiskinannya masih lebih tinggi. Di saat yang sama, rendahnya ketimpangan
pengeluaran Babel perlu dipertahankan sebagai modal pembangunan. Tantangannya
adalah memastikan pemerataan tersebut berjalan seiring dengan peningkatan
produktivitas dan pendapatan, bukan sekadar mencerminkan rendahnya daya beli secara
umum. Perbedaan ketimpangan antara perkotaan dan perdesaan juga perlu menjadi
perhatian dalam perumusan kebijakan.
Narahubung Media
Tim Humas dan Protokol
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung